Kamis, 24 Oktober 2013

Bukan Nyerah Tapi Pasrah


Dalam langkah mewujudkan impian kita, tahap terakhir sebelum mimpi itu menjadi nyata - dalam beberapa buku bahkan Al Qur'an - disebutkan satu sikap: pasrah. Merelakan. Ikhlas. Terwujud atau tidaknya kita serahkan pada Tuhan. 

Setelah kerja keras setengah mati, membentur-bentur tembok, tubuh babak belur, Tuhan menyodorkan pilihan: mau keras kepala memaksakan kehendakmu atau kau percayakan pada-Ku untuk menentukan takdir terbaikmu?

Saya adalah orang yang sulit sekali menyerah. Tepatnya: tidak mungkin menyerah.Tapi pasrah adalah mempercayakan Tuhan dengan Kemahakuasaan-Nya menyempurnakan kerja keras kita. 

Logikanya sederhana: kita hidup di dunia ini toh dikasih pinjem. Seluruh properti di dunia ini termasuk diri kita ini milik-Nya. Lha ya terserah Dia to mau mengabulkan doa yang mana atau mewujudkan impian siapa. Kalau Tuhan iseng meniup nyawa saya saat menulis blog ini, bablaslah saya tanpa sempat pamit kepada Anda semua.

Beberapa hari ini saya sering termenung di persimpangan. Beberapa keajaiban mendatangi saya, justru ketika saya merasa jalan keluar semakin sulit didapatkan. Saat saya terengah-engah kelelahan tanpa bayangan keberhasilan, cahaya itu datang: yang mustahil bukan tidak mungkin. Saya banyak terselematkan saat istirahat. Justru saat saya pasrah, bukan saat saya onfire mengejar impian mati-matian.

Apa sih yang gak mungkin buat Tuhan? Kun fayakun maka terjadilah kehendak-Mu. 

Tapi malam ini aku lelah ya Tuhan (entah mengapa kau ciptakan lelah untuk tubuhku), kubutuh istirahat sebentar besok bisa memenuhi kewajibanku pada-Mu lagi: menjadi rahmatan lil 'alamien

Akan kuselesaikan masalah yang mampu kuselesaikan, tapi yang di luar batas kemampuanku kumohon Engkau hadir meminjamkan kekuatan-Mu. Aku tidak menyerah, kuhanya mencoba menjalani takdir-Mu dengan lebih ikhlas.

Sebagai satu-satunya Tuhan yang diakui di alam semesta ini, aku percaya Engkau pasti tidak menentukan takdir dan nasib seseorang dengan sembarangan. 

Jadikan aku hamba-Mu yang ikhlas, yang pasrah, yang mampu membaca hikmah saat kun fayakun-Mu hadir untuk menjawab doa-doaku yang mungkin aneh di telinga manusia yang lain, tapi pasti tidak di telinga-Mu. Amien ya Robbal Alamien..

PUTUS ASA

(Sebuah Percikan Permenungan)

Penyakit merupakan bencana yang menakutkan dan ditakuti dari generasi ke 
generasi. Orang-orang Eropa tentu masih ingat bencana nasional yang
menghantui mereka dengan black death-nya. Penyakit sampar itu terjadi pada 
pertengahan abad ke-14. Bencana itu dibawa dari Timur Tengah oleh 
tikus-tikus yang dibawa oleh para saudagar. Dan itu menyebar sampai ke 
Itali, Spanyol, Perancis pada tahun 1347, Inggris (1348), Jerman (1349) dan 
akhirnya Rusia (1350). Kisah ini bisa kita baca dalam 100 Peristiwa yang 
Membentuk Sejarah Dunia tulisan Bill Yenne dan Eddy Soetrisno.

Pemandangan penyakit yang mematikan itu membuat orang kehilangan harapan. Di 
zaman sekarang pun kita tidak bisa menutup mata dengan adanya penyakit yang 
dinamakan AIDS/HIV. Kalau kita ikut nimbrung dalam percakapan sehari-hari, 
kata-kata seperti kolesterol, trigliserit dan asam urat serta diabetes sudah 
menjadi ungkapan yang akrab dengan hidup kita. Orang-orang gamang 
menghadapi pelbagai penyakit tersebut. Kalau seseorang tertimpa penyakit 
dan tidak sembuh-sembuh biasanya ada rasa putus asa yang mendalam dan lebih 
gawat lagi jika menyalahkan Tuhan. Penyakit memang momok yang sangat 
menakutkan di jaman modern ini.
Dalam dunia politik yang melibatkan peperangan, jika negara atau kerajaannya 
kalah, sang jendral tidak mau tunduk kepada conqueror, maka jalan 
keputusasaannya adalah bunuh diri. Kita bisa membacanya dalam Three Kingdoms 
tulisan Kim Woo Il atau dalam The life of Hitler yang mengisahkan Adolf 
Hitler dan kekasihnya, Eva Von braun yang bunuh diri setelah Jerman kalah. 
Keduanya menelan racun maut yang menghantarkan mereka ke alam baka di 
bunker yang mereka buat sendiri.

Ada pepatah yang berbunyi, "kegagalan adalah sukses yang tertunda." Tetapi 
tidak semua orang setuju dengan ungkapan tersebut. Kita lihat saja, di 
Jepang dikabarkan memiliki tingkatan bunuh diri tertinggi, karena gagal 
dalam study misalnya, seorang siswa bisa terjun bebas dari hotellantai 10. 
Keputusasaan juga melanda di dalam hidup harian manusia pada zaman sekarang 
ini. Kelangkaan BBM – yang jika harganya naik – tentu akan membuat harga 
barang-barang semakin melambung. Orang-orang miskin marah dan melampiaskan 
dengan demontrasi. Tetapi nampaknya sia-sia belaka. Banyak orang menjadi 
putus asa, ke mana harus mengadu jika diri mereka terimpit dalam masalah 
ekonomi dan keamanan. Orang menjadi tidak bersemangat jika harus berurusan 
dengan pemerintah. Ibaratnya, jika kehilangan ayam dan melaporkan kepada 
yang berwajib malah akan kehilangan kambing. Sungguh tragis ibu pertiwi yang 
menjadi pijakan kaki ini. Himpitan hidup semakin ketat, hanya karena uang 
puluhan ribu rupiah saja, orang bisa baku bunuh.
Putus asa sungguh memasuki area yang begitu kompleks dan melebar. Orang 
putus asa, bukan hanya masalah ekonomi, resistensi terhadap hidup yang 
sudah di ambang batas, tetapi juga masalah percintaan. Kisah-kisah 
percintaan dalam pelbagai budaya hendak menunjukkan bahwa pikiran yang buntu 
bisa memaksa seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Drama Romeo-Juliet 
tulisan Shakespeare (1564 - 1616) merupakan kisah keputusasaan, setelah dua 
sejoli itu tidak menemukan way out bagi kisah cinta mereka. Di Cina ada sam
Pek dan Eng Tay dan di Indonesia khususnya Jawa tengah ada Pronocitra dan 
Roro Mendut. Mereka meyakini bahwa hidup mereka akan di alam ke-langgeng-an 
setelah mati bersama dan percintaan mereka menjadi abadi.

Yang lebih tragis dan paling klimaksnya adalah keputusasaan karena merasa 
hidupnya tidak berarti, meaningless. Dia merasa bahwa eksistensinya di 
dunia ini tidak memiliki makna apa-apa, maka way out-nya adalah mengakhiri 
hidupnya sendiri yakni bunuh diri, suicide.

Putus asa kadang melekat dengan kehidupan kita dan kita terlibat di 
dalamnya. Secara tidak sengaja, saya membuka tulisan tentang putus asa dalam 
Ensiklopedi Gereja. Adolf Heuken dalam Ensiklopedi Gereja menulis "Putus 
asa merupakan kejahatan besar terhadap Bapa Yang Maharahim. Pengalaman 
menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk putus asa dapat membahayakan 
kesehatan jasmani dan mental dan tidak jarang menyebabkan seseorang 
menjermuskan diri ke aneka kejahatan. Cukup banyak orang beriman merasa 
tidak dikasihi Allah, karena kurang beruntung dibandingkan orang lain. Maka, 
mereka menjauhi Allah. Sikap seperti ini berbahaya untuk iman."